Gotong Royong Rayakan Kemerdekaan, Warga Tambakbaya Hidupkan Semangat Kebersamaan Antarwarga

Redaksi
5 Min Read
Perayaan HUT ke 81 di Sempur Dua Tambakbaya

Teropongistana.id Lebak — Saat tanggal 17 Agustus tiba, suasana di RT 20 RW 07, Desa Tambakbaya, terasa berbeda. Bukan hanya karena bendera Merah Putih yang berkibar di setiap sudut jalan, melainkan karena ada sesuatu yang lebih hangat dan kebersamaan. Menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-81, warga tidak sekadar merayakan, mereka berkumpul, berbagi, dan merasakan kembali makna sesungguhnya dari kemerdekaan: bebas bersatu, hidup rukun, dan saling peduli.

Di halaman rumah salah satu inisator kegiatan yaitu Ilah, yang halaman depan rumahnya luasnya tak seberapa namun penuh tawa, warga dari berbagai usia datang membawa semangat yang sama. Kegiatan ini lahir bukan dari perintah, melainkan dari hati berkat inisiatif tokoh masyarakat Tambakbaya Agus, dan Ilah yang dengan tulus membukakan pintu rumahnya untuk semua.

Bersama pengurus RT, RW, dan para pemuda, mereka bahu-membahu sejak awal Agustus. Ada yang menyapu halaman, ada yang merangkai hiasan sederhana, ada yang menyiapkan perlengkapan lomba. Tak ada yang diupah, tak ada yang merasa diungguli semua melakukannya dengan ikhlas, karena sadar kemerdekaan dan kebersamaan tak bisa dibeli, harus dirajut bersama.

Tokoh Masyarakat Tambakbaya Agus berdiri di tengah kerumunan, menatap warga yang datang dengan wajah-wajah ceria. Ia berbicara dengan nada rendah namun menembus hati.

“Kemerdekaan itu bukan sekadar tanggal di kalender. Bukan sekadar libur atau upacara. Kemerdekaan itu terasa saat kita semua anak-anak, bapak, ibu, nenek  berkumpul tanpa sekat, tanpa ragu, dan merasa satu keluarga. Hari ini, di halaman Bu Ilah, kita buktikan bahwa semangat para pendiri bangsa masih hidup di desa kita ini,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar, Senin (17/8/2026)

Di sampingnya, pemilik rumah Ilah tersenyum menatap tetangganya yang memenuhi halaman rumahnya. Baginya, membukakan pintu adalah cara paling tulus untuk bersyukur.

“Rumah ini kecil, tapi kalau diisi kebaikan dan kebersamaan, ia menjadi luas dan hangat. Saya bahagia sekali melihat kalian semua di sini. Kemerdekaan itu milik kita semua, dan cara terbaik merayakannya adalah dengan saling mengasihi,” kata Bu Ilah, matanya berbinar penuh syukur.

Lomba yang Menyatukan Hati

Perlombaan yang digelar sederhana, namun maknanya luar biasa:

Anak-anak berlari riang mengangkat sendok berisi kelereng, menahan napas memasukkan paku ke botol, menari diiringi tawa saat balon di tangan mereka terancam pecah, dan berebut memakan kerupuk yang digantung di tali. Wajah mereka penuh tepung, keringat, dan senyum cerminan masa depan bangsa yang ceria dan tak kenal perpecahan.

Para orang tua pun tak mau kalah. Dalam estafet tepung, mereka bekerja sama dengan hati-hati, menahan tawa namun tetap fokus menyampaikan wadah dari tangan ke tangan tanpa menumpahkan isinya. Di sinilah terlihat, bukan soal menang atau kalah, melainkan seberapa mampu kita saling menjaga dan melengkapi.

Di sela-sela tawa dan sorak, juga terselip kegiatan sosial warga membawa sedikit rezeki dari rumahnya untuk dibagi bersama. Beras, gula, minyak, bahkan sekadar senyuman dan perhatian bagi yang membutuhkan. Sebuah pengingat lembut: kemerdekaan berarti kita bebas untuk berbagi, bukan untuk bersendiri.

Saat matahari mulai condong ke barat dan perlombaan berakhir, Agus menutup kegiatan dengan pesan yang akan terus terngiang di hati warga Tambakbaya.

“Hari ini kita menang bukan karena ada yang berdiri di podium tertinggi. Kita semua menang karena telah membuktikan bahwa kita masih bisa bersatu, masih bisa bergotong royong, dan masih peduli satu sama lain. Semoga semangat ini tidak selesai saat kita pulang ke rumah masing-masing, tetapi terus hidup di jalan, di ladang, di tempat kerja, di mana pun kita berada. Inilah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan untuk anak cucu kita,” tutupnya pelan namun menggetarkan hati.

Warga pulang membawa senyum, cerita, dan kehangatan di dada. Halaman rumah Ilah kembali tenang, namun ada sesuatu yang tetap tinggal ikatan persaudaraan yang kian kuat, dan keyakinan bahwa kemerdekaan sesungguhnya dirayakan bukan dengan kemegahan, melainkan dengan kebersamaan yang tulus di antara sesama. (Dana)

Share This Article