Satu per Satu Orang Dekat Jokowi Ditendang dari Kabinet Prabowo

Redaksi
3 Min Read
Oleh: Jerry Massie Direktur Political and Public Policy Studies

Teropongistana.id Jakarta – Sejak Prabowo Subianto naik ke tampuk kekuasaan, hubungan politik antara Prabowo dan Joko Widodo sempat terlihat harmonis. Namun, seiring berjalannya waktu, mulai terlihat adanya jarak politik di antara keduanya.

Indikasinya terlihat dari satu per satu figur yang dikenal dekat dengan Jokowi mulai tersingkir dari lingkaran kekuasaan dan kabinet pemerintahan Prabowo.

Sejumlah nama yang sebelumnya memiliki kedekatan dengan Jokowi telah mengalami pergantian posisi. Salah satunya adalah Emmanuel Ebenezer, mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan sekaligus Ketua Umum Jokowi Mania (Joman), yang tersingkir setelah tersandung kasus dugaan korupsi.

Kemudian, ada nama Budi Arie Setiadi, Ketua Umum Projo (Pro Jokowi) sekaligus salah satu orang yang dikenal dekat dengan Jokowi. Budi Arie juga dicopot dari jabatannya dalam reshuffle kabinet sebelumnya.

Kemudian Sri Mulyani Indrawati yang selama ini juga dikenal sebagai salah satu menteri yang mendapat kepercayaan Jokowi turut meninggalkan kabinet Prabowo. Pergantian tersebut tentu menjadi dinamika politik tersendiri dalam pemerintahan saat ini.

Langkah Prabowo mengganti sejumlah figur yang memiliki kedekatan dengan Jokowi dapat dibaca sebagai upaya untuk melakukan konsolidasi pemerintahan. Presiden tentu membutuhkan kabinet yang solid dan memiliki loyalitas politik yang kuat terhadap agenda pemerintahannya.

Namun, dalam perspektif politik, keberadaan figur-figur yang memiliki kedekatan kuat dengan mantan presiden juga dapat menjadi tantangan tersendiri. Terlebih jika mereka masih memiliki jaringan politik yang kuat dan loyalitas terhadap kelompok politik sebelumnya.

Pertanyaannya, masih berapa banyak orang dekat Jokowi yang bertahan di dalam kabinet Prabowo?

Jika dikaitkan dengan kontestasi politik menuju 2029, keberadaan para loyalis Jokowi di dalam pemerintahan berpotensi menjadi variabel politik yang perlu diperhitungkan Prabowo. Mereka bisa saja memiliki preferensi politik berbeda ketika momentum Pilpres 2029 tiba.

Bukan tidak mungkin, sebagian figur tersebut nantinya memberikan dukungan kepada Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, apabila kembali maju dalam kontestasi politik nasional.

Selain itu, salah satu figur yang disebut memiliki kedekatan dengan Jokowi dan telah tersingkir dari kabinet adalah Dito Ariotedjo, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dinamika politik antara Prabowo dan Jokowi tidak bisa hanya dilihat dari hubungan personal maupun pertemuan politik keduanya. Pergeseran posisi para figur di dalam pemerintahan juga dapat menjadi indikator adanya proses konsolidasi kekuasaan.

Pada akhirnya, Prabowo tentu memiliki hak prerogatif untuk menentukan siapa yang dianggap paling tepat membantu menjalankan pemerintahannya. Namun, publik akan terus membaca setiap pergantian pejabat bukan hanya dari sisi kinerja, tetapi juga dari perspektif konfigurasi dan arah politik menuju 2029.

Share This Article