Jembatan Ilmu Menuju Dunia Nyata PLP 2 Universitas La Tansa Mashiro Berjalan Hangat di Lebak

admin
4 Min Read
Universitas La Tansa Mashiro saat melangkah ke ruang-ruang sekolah, bukan lagi sebagai pelajar, melainkan sebagai calon guru yang sesungguhnya.

Teropongistana.id Lebak — Menjadi pendidik bukan sekadar menyampaikan materi di depan kelas. Ia adalah seni menyentuh hati, menyalakan harapan, dan membentuk masa depan generasi bangsa dan itulah yang sedang dirasakan langsung oleh para mahasiswa Universitas La Tansa Mashiro saat melangkah ke ruang-ruang sekolah, bukan lagi sebagai pelajar, melainkan sebagai calon guru yang sesungguhnya.

Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) 2, yang menjadi jantung proses pembentukan kompetensi calon pendidik, kini sedang berlangsung hangat di SMAN 1 Warunggunung. Di sini, mahasiswa semester 7 dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Biologi, dan Pendidikan Matematika turun langsung, membawa teori yang selama ini dipelajari di kampus, lalu merangkainya menjadi pengalaman nyata di tengah-tengah siswa, di tengah suasana sekolah yang hidup dan dinamis.

Kegiatan yang direncanakan berlangsung selama tiga bulan ini, hingga saat ini baru memasuki pertemuan ketujuh belum sampai dua bulan. Namun benih-benih kebaikan dan pembelajaran telah tumbuh subur. Di tengah pelaksanaan tersebut, Dr. Hj. Reni Apriani, M.Pd., hadir langsung untuk memantau perkembangan para mahasiswa sebuah kehadiran yang menjadi semangat sekaligus pengingat bahwa pembentukan guru tidak boleh lepas dari pengawasan dan bimbingan yang tulus.

“PLP 2 adalah momen sakral bagi calon pendidik. Di sinilah mereka mulai menyadari bahwa di balik setiap pelajaran ada anak-anak yang menanti bimbingan, ada harapan orang tua, ada tanggung jawab besar. Monitoring ini bukan sekadar mengecek kehadiran, melainkan memastikan mereka tidak berjalan sendirian kampus selalu ada untuk membimbing, mengoreksi, dan mendampingi,” ungkap Dr. Hj. Reni Apriani, M.Pd kepada awak media, Kamis (17/9/2026)

Universitas La Tansa Mashiro telah menjalin kerja sama yang luas dengan berbagai sekolah di Kabupaten Lebak, baik negeri maupun swasta, sebuah jaringan pengabdian yang menyatukan kekuatan dunia akademik dengan realitas pendidikan di lapangan. Sinergi ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata bahwa kampus tidak berdiri menara gading, melainkan hadir menyatu dengan masyarakat.

Selama proses monitoring, hal-hal kecil namun berharga terlihat: bagaimana mahasiswa mulai menemukan gaya mengajarnya sendiri, bagaimana mereka berkoordinasi dengan guru pamong, bagaimana dosen pembimbing dan pihak sekolah saling melengkapi langkah demi kesuksesan para calon pendidik. Semua itu dilakukan agar tujuan PLP 2 mencetak guru yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati dan berjiwa pendidik — benar-benar tercapai.

“Baru tujuh pertemuan, tapi perubahannya sudah terlihat. Mereka semakin percaya diri, semakin dekat dengan siswa, semakin paham bahwa menjadi guru adalah panggilan hati. Tiga bulan ke depan adalah waktu yang berharga untuk menempa diri,” tambah Dr. Hj. Reni Apriani.

Di sela-sela ruang kelas SMAN 1 Warunggunung, cerita sederhana namun menyentuh sedang terus ditulis. Cerita tentang kampus yang peduli, sekolah yang membuka hati, dan calon-calon guru yang sedang menemukan panggilan hidupnya. Universitas La Tansa Mashiro membuktikan: pendidikan yang baik lahir dari kesinambungan antara teori dan praktik, antara ilmu dan pengabdian, antara kampus dan masyarakat. Dan di sanalah, di kabupaten Lebak yang damai itu, benih-benih guru masa depan tumbuh perlahan namun pasti, siap menerangi jalan anak-anak bangsa.

Share This Article